Archive for October, 2009
Bibit Chandra… what’s wrong? (kutipan tulisan Indra J Piliang)
Kemaren, tanggal 29 Oktober 2009, tepat sehari setelah Hari Sumpah Pemuda, Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto ditahan di Mabes Polri. Keduanya dikenakan tuduhan telah menyalahgunakan wewenang sebagai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bagi saya, ini adalah masalah hukum yang pelik dan rumit. Dan saya merasa tidak tahu apa-apa tentang itu, selain hanya membaca perdebatan hukum di media dan bertanya lewat para ahlinya. Yang ingin saya tulis adalah Chandra M Hamzah. Kami menyebutnya dengan nama Pance. Dulu, ketika masuk UI tahun 1991, dia adalah Ketua Harian Senat Mahasiswa UI. Dalam balairung besar UI, Pance bersuara lantang menyambut para mahasiswa UI yang berjumlah ribuan. Slogan yang dipakai oleh SMUI waktu itu adalah “Tiada Kata Jera dalam Perjuangan.” Chandra juga Komandan Resimen Mahasiswa UI yang bermarkas di pintu masuk UI, dekat para mahasiswa menunggu bis kuning. Pance kuliah di Fakultas Hukum UI. Dia berhasil menjadikan Menwa UI sebagai organisasi yang tidak sesangar di kampus lain. Hubungannya begitu dekat dengan kelompok atau organisasi mahasiswa lain. Begitu juga dengan SMUI, Pance berhasil menjadikan sebagai organisasi yang padu, ketika berhadapan dengan aturan organisasi mahasiswa yang berubah-ubah. Pance menggantikan Eep Saefullah Fatah (FISIP UI) sebagai Ketua Harian SMUI. Di kemudian hari, Bagus Hendraning menggantikan Pance. Proses pemilihan waktu itu dilakukan oleh Ketua-ketua Senat Mahasiswa Pakultas. Setelah itu, baru diadakan pemilihan raya (pemira) dengan ketua terpilih Zulkiefliemansyah (FEUI). Baru berturut-turut Komaruddin (FISIP UI), Selamat Nurdin (FISIP UI) dan Rama Pratama (FEUI). Saya pernah maju jadi Ketua SMUI tahun 1995, namun kalah dari Komaruddin. Pance adalah organisatoris yang baik. Dia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saya masih mengingat bagaimana dia mendekati para yunior satu demi satu, lalu memberikan pemahaman tentang kemahasiswaan. Seingat saya – ada dalam catatan harian saya –, Pance menilai saya sebagai yunior yang susah berbicara. Kalau berbicara, sulit dimengerti. Mungkin karena logat atau memang karena sejak kecil saya “teloh” (bahasa Minang) alias gagap berbicara. Aktivitas di UI memang membuat saya mulai membiasakan diri, pertama lewat catatan di buku sebelum berbicara, lalu pelan-pelan mulai mengandalkan ingatan. Ketika Pance menjadi Ketua Harian SMUI, kami sempat mengadakan kegiatan nasional dengan tajuk Diskusi Mahasiswa Tentang Tinggal Landas (DMTL). Waktu itu saya kebagian sebagai seksi acara. BJ Habibie hadir waktu itu, juga pimpinan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Sebagian dari pimpinan mahasiswa itu kini menjadi pemimpin dalam dunianya masing-masing, terutama di bidang pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, kaum profesional, intelektual dan lain-lain. Terlalu banyak nama untuk disebutkan. Pada tahun berikutnya, di masa kepemimpinan Bagus Hendraning, diadakan juga Simposium Nasional Angkatan Muda 1990-an: Menjawab Tantangan Abad 21. Kebetulan saya sendiri yang menjadi Ketua Panitia Pelaksana. Eep dan Pance menjadi narasumber dalam kegiatan kemahasiswaan itu. Saya juga hadir ketika Pance menikah dengan istri pertamanya: Nadia Madjid. Di sana saya baru tahu Pance adalah putra Minang dengan penggunaan adat Minang dalam prosesi pernikahan. Mbak Nadia adalah mahasiswa Fakultas Sastra UI jurusan Bahasa Inggris dan putri Nurcholis Madjid. Masih ada foto perkawinan itu, ketika setiap orang ingin berdiri berdekatan dengan Cak Nur. Selama periode itu, kami beberapa kali bertemu, terutama dalam forum-forum diskusi mahasiswa. Dibandingkan antara Pance dengan Eep Saefullah Fatah, tentu saya lebih banyak bertemu dengan Eep, baik sebagai notulis, moderator, sampai kemudian sebagai pembicara pendamping dan pembicara pengganti tentang gerakan mahasiswa. Skripsi saya juga tentang gerakan mahasiswa. Ketika aksi-aksi mahasiswa 1998 meledak, saya ketemu Pance di pagar halaman kampus UI Salemba. Waktu itu tanggal 2 Mei 1998. Keluarga Besar UI mengerahkan massanya, ketika senat-senat mahasiswa justru tidak bergerak. Di kampus terpasang pengumuman dari Ketua-Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran UI, Fakultas Ilmu Keperawatan UI dan Fakultas Kedokteran Gigi UI bahwa mereka tidak bertanggungjawab atas aksi mahasiswa hari itu. Saya lihat beberapa tokoh luar kampus hadir di panggung orasi, seperti Ali Sadikin, Adnan Buyung Nasution, dan Rohut Sitompul. Saya sempat mengusir Rohut Sitompul dari atas mimbar. Kebetulan, para mahasiswa dari luar kampus bergerak di jalanan Salemba dan ingin agar mahasiswa UI ikut turun ke jalan. Para mahasiswa UI sedikit terpancing, tetapi ditahan oleh aparat keamanan bersenjata lengkap di pagar kampus. Saya dan Pance ada di tengah-tengah aparat dan mahasiswa UI itu, mencegah agar mahasiswa tidak keluar kampus dan juga menghalangi aparat yang mendekat langkah demi langkah mendekati mahasiswa. Belakang saya tahu aksi di pagar kampus itu masuk CNN. Memang sempat terjadi aksi dorong-dorongan, tetapi tidak sampai menjadi bentrokan. Kepada saya Pance mengatakan bahwa Ia mendapatkan informasi betapa mahasiswa UI akan dikorbankan. Dia mewanti-wanti agar saya menghubungi pimpinan aksi mahasiswa untuk tidak membuat massa mahasiswa UI turun ke jalan. Saya menyampaikan informasi itu di posko yang kami buat di Gang Kober (Kuburan), Depok. Pimpinan KBUI memang berkumpul di sana dan kini sebagian sudah mendapatkan gelar doktor dan masih banyak yang mengambil gelar doktor di luar negeri. Ketika menduduki Gedung MPR-DPR, Pance juga terlihat di luar pagar. Menurut informasi yang saya dapat, dia berusaha mencegah kalau terjadi penyerbuan atas mahasiswa yang menduduki gedung itu. Pance menyediakan sejumlah bis untuk evakuasi, kalau tiba-tiba terjadi penyerbuan. Isu penyerbuan itu menyebabkan kami tidak bisa tidur. Pada dini hari, pukul 03.00, kami sempat terbangun dan berlari sekencang-kencangnya menuju halaman belakang, karena ada info sweeping dan penyerbuan dari pasukan militer di luar gedung. Gedung DPR-MPR itu tidak jadi diserbu, justru dimasuki oleh banyak sekali tokoh yang kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh reformasi. Peran Pance yang paling besar menurut saya adalah dalam berhubungan dengan ayah mertuanya, Cak Nur. Setelah semuanya berakhir, Pance saya dengar lebih banyak aktif di law-firm yang dia pimpin. Kebetulan saya juga kenal para tetua di sana yang dikenal sebagai genk Erry Riyana Hardjapamengkas. Dia juga berinisiatif membentuk lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang advokasi hukum. Salah satunya adalah Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK). Ada beberapa teman yang aktif disana. Ketika konflik horizontal meledak di banyak daerah, seperti di Ambon, kelompok itu juga aktif mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat yang kemudian membentuk Forum Indonesia Damai. Saya juga aktif di kelompok itu dan beberapa kali ikut rapat di kawasan Kebayoran Baru. Belakangan, kelompok inilah yang menjadi salah satu pihak yang aktif dalam amandemen Konstitusi, paling tidak dalam mendorong dari belakang. Saya juga terlibat menjadi anggota dari Koalisi Konstitusi Baru (KKB). Adegan paling “heroik” adalah ketika Bambang Widjojanto merobek naskah pembentukan Komisi Konstitusi versi MPR. Para pengacara lain setahu saya sibuk dengan menjadi pengacara bagi para tersangka Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), terutama yang perusahaannya masuk ke dalam BPPN. BPPN waktu itu memiliki aset ratusan trilyun rupiah. Rata-rata mereka kemudian menjadi kaya raya. BLBI, kita tahu, telah menghabiskan uang negara sebanyak lebih dari Rp. 600 Trilyun, hampir 100 kali lipat skandal Bank Century. Tetapi tidak ada artinya dibandingkan dengan dana tanggap darurat yang hanya Rp 100 Milyar untuk gempa di Sumatera Barat. Butuh lebih dari 60 gempa bumi lagi berkekuatan 7,9 scala richter agar dana turun Rp. 6 Trilyun. Atau butuh 6000 gempa bumi lagi berkekuatan 7,9 scala richter agar dana turun Rp. 600 Trilyun. Nama Chandra muncul lagi sebagai kandidat pimpinan KPK yang diseleksi di DPR RI. Saya sendiri gagal lolos ke DPR RI sebagai calon anggota KPU. Suara yang diperoleh Chandra berada di urutan atas. Tapi dalam pemilihan Ketua KPK, dia kalah dari Anthasari Azhar. Saya beberapa kali saja mengirimkan SMS kepada Chandra atau Pance ini. SMS terakhir saya kirimkan menjelang deklarasi saya sebagai politisi di Universitas Paramadina, Jakarta, tanggal 6 Agustus 2008. Chandra datang dan memberikan kesaksian (lihat di www.indrapiliang.com bagian testimony): “Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan. Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. Sehubungan dengan niat Indra untuk masuk ke DPR, jadi kami di KPK memang menganggap ada korupsi di pengadaan badan dan jasa, ada korupsi di beberapa sektor lain. Tetapi satu hal yang paling sukses adalah korupsi dalam pembuatan peraturan perundang-undangan. Sampai saat ini katakanlah UU kita UUD 1945, itu umurnya sebelum di amandemen masih berlaku sampai tahun 1999. 55 tahun UUD 1945 itu berlaku dan yang membuat sudah meninggal. Berarti kita dikuasai oleh orang-orang mati. Kitab UU Hukum Perdata di Indonesia itu itu dibuat pada tahun 1930 dan sekarang sudah 2008, berarti sudah 78 tahun. Jadi seandainya proses pembuatan legislasi undang-undang ini diwarnai dengan nuansa korupsi, maka bisa dibayangkan generasi ke depan akan di kekang atau hidup dalam suasana yang korup. Jadi korupsi yang ada di pengadilan hanya satu orang, satu keluarga atau sekelompok orang, tetapi korupsi yang ada di legislatif menjadi kolektif. Itu adalah sumber permasalahan kenapa bangsa ini menjadi demikian terpuruk. Dan hadirnya Indra mudah-mudahan tidak larut, karena ada beberapa asumsi, mudah-mudahan tidak benar, kalau kita masuk ke sarang penyamun, jadi penyamun juga. Terima kasih. (Chandra M Hamzah, Wakil Ketua, Komisi Pemberantasan Korupsi)” Terakhir jumpa Chandra saya lupa, barangkali dalam suatu malam di sebuah cafe di TIM ketika sejumlah teman bertemu. Tapi yang jelas, Chandra alias Pance ini adalah produk murni dari reformasi. Almarhum Cak Nur mengatakan bahwa yang dibutuhkan dalam zaman reformasi ini adalah kaum reformis yang otentik. Saya bersaksi bahwa Chandra alias Pance ini adalah produk dari kaum reformis yang otentik itu. Apakah karena itu ia ditahan? Apakah karena itu ia diperiksa? Atau adakah drama-drama lain yang terlihat semakin hebat dipertontonkan dalam produk kemasan seperti sekarang ini? Indonesia jelas berada di tubir jurang negara gagal (failed state). Apakah penahanan Chandra bagian dari sangkakala kematian sebuah bangsa itu, seperti yang pernah ditangisi oleh Kahlil Gibran atas kematian bangsa Libanon? Yang jelas, seperti Chandra yang berucap di hadapan ribuan mahasiswa UI tahun 1991 lalu itu, saya hanya bisa katakan: TIADA KATA JERA DALAM PERJUANGAN!!
Indra J Piliang
Mantan Aktivis Organisasi Kemahasiswaan UI 1990-an
Gaji menteri naik
Menkeu yang baru -saja dilantik- baru saja mengumumkan bahwa gaji menteri dan tunjangan2 serta fasilitas2nya selama ini dinilai kurang layak, sehingga sudah sepantasnya untuk ditingkatkan. Menteri2 yang lain mengamini, sementara para oposan dan rakyat jelata yang hanya kebagian peran menjadi penonton memprotes mentah-mentah.
Bagi orang Jawa, membicarakan upah sebelum bekerja adalah tabu. Apalagi menteri adalah jabatan politik yang ‘niat’ awalnya adalah untuk mengabdi. Orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk kemajuan sebuah tatanan masyarakat, bisa dipastikan akan mendapat sanjungan yang luar biasa, bahkan bisa disebut pahlawan. Jika statusnya sudah menjadi pahlawan, maka nama harumnya akan dikenang sepanjang masa meski jasadnya sudah tak mampu lagi bergerak.
Namun ketika jasa yang diberikan ‘kok’ ternyata masih meributkan imbalan, sepertinya sanjungan dari masyarakat, apalagi untuk memberi gelar pahlawan dari lubuk hati yang paling dalam -bukan atas dasar keputusan dewan yang menggunakan sistem voting- tentulah akan sangat sulit didapat.
Padahal gaji menteri yang 18 juta bukanlah jumlah yang sedikit. Okelah para penguasa bisnis atau eksekutif perusahaan-perusahaan besar bergaji jauh lebih tinggi dari itu, tapi mereka kan sama sekali tidak punya kesempatan untuk menjadi pahlawan negara? mereka tidak mungkin menjadi selebritis politik, popularitas mereka tidaklah sementereng para menteri. Singkatnya, mereka tidak mungkin dikenang. Lagipula kalo saja para menteri mau sedikit berhemat dengan menggunakan mobil yang asal pantas saja, tidak mengejar kemewahan, akan jauh lebih bayak penghematan yang didapat. Boleh lah menteri mengedepankan social cost sebagai alasan, semisal menyumbang ke tempat teman yang hajatan atau ada proposal yang masuk, tapi hal itu seharusnya bisa ditangkis dengan sosialisasi kayak semisal dilarang mengajukan bantuan kepada menteri, karena gaji menteri hanya dukhususkan untuk kehidupan sehari-hari, titik. cukup. Hajatan? nyumbang saja semampunya. Yang punya hajat pasti maklum, toh sudah ada sosialisasi.
Apalagi kalau para menteri menggunakan mobil yang ala kadarnya, maka rakyat akan mencontohnya, dan gaya hidup Indonesia tidaklah terlalu glamour. Bisa dibayangkan kalau rakyat Indonesia tidak lagi silau pada mobil2 mewah, uang yang seharusnya untuk beli mobil bisa dialokasikan untuk pemberdayaan ekonomi lemah, pemerataan ekonomi makin meningkat.
Jadi sebenarnya menjadi menteri itu memiliki nilai sosial yang tidak bisa diukur dengan rupiah…. tapi ketika nilai sosial yang ada ingin diuangkan, sepertinya persepsi masyarakat akan berubah.
Kalau ada pertanyaan, lah… kalau gaji menteri kecil, tar siapa yang mau jadi menteri? Asalkan gaji tersebut sudah cukup untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, saya yakin masih banyak orang yang mau jadi menteri. Karena disitulah kesempatan beramal saleh, membuat hidup penuh berkah.
Budidaya Selada
Family Asteraceae

Deskripsi
Jenis yang banyak diusahakan di dataran rendah ialah selada daun. Jenis ini begitu toleran terhadap dataran rendah sampai di daerah yang sepanas dan serendah Jakarta pun masih subur dan bagus pertumbuhannya. Selada daun memiliki daun yang berwama hijau segar, tepinya bergerigi atau berombak, dan lebih enak dimakan mentah. Varietas selada daun yang baik antara lain new york, imperial, great lakes, dan pennlake.
Manfaat
Selada (Lactuca sativa) memiliki penampilan yang menarik. Ada yang berwama hijau segar dan ada juga yang berwama merah. Selain sebagai sayuran, daun selada yang agak keriting ini sering dijadikan penghias hidangan.
Syarat Tumbuh
Selada yang ditanam di dataran rendah cenderung lebih cepat berbunga dan berbiji. Suhu optimal bagi pertumbuhan selada ialah antara 15-25°C. Jenis tanah yang disukai selada ialah lempung berdebu, lempung berpasir, dan tanah yang masih mengandung humus. Meskipun demikian, selada masih toleran terhadap tanah-tanah yang miskin hara asalkan diberi pengairan dan pupuk organik yang memadai. Sebaiknya tanah tersebut bereaksi netral. Jika tanah asam, daun selada menjadi kuning. Oleh karena itu, untuk tanah yang asam sebaiknya dilakukan pengapuran terlebih dahulu sebelum penanaman.
Pedoman Budidaya
Benih Selada diperbanyak dengan biji. Bijinya, yang’ kecil diperoleh dari tanaman yang dibiarkan berbunga dan bertiuah. Setelah tua tanaman dipetik dan diambil bijinya. Namun, sekarang benih selada banyak dijual di toko pertanian. Khusus untuk benih selada hibrida lebih baik dibeli di toko. Hal ini bertujuan agar produksi dan mutu produksinya tetap prima. Untuk satu hektar lahan dibutuhkan sekitar 250 g benih. Umumnya benih selada disemai terlebih dahulu: Penanaman langsung dapat saja dilakukan, namun lebih baik kalau disemaikan lebih dahulu. Penyemaian dapat dilakukan di dalam kotak ataupun di lahan. Bila di lahan lakukan pengolahan tanah hingga gembur. Tambahkan pasir dan pupuk kandang. Taburkan bibit secara merata. Lalu tutupi dengan lapisan tanah tipis-tipis. Setelah berumur sekitar 3 minggu bibit siap dipindahkan ke lahan. Penanaman Tanah yang hendak ditanami diolah dahulu. Tanah dicangkul sedalam 20 cm. Balu-batu kecil maupun besar dikeluarkan dari lahan. tanah yang mengeras atau berbungkah dihaluskan. Ini penting karena perakaran tanaman selada yang kecil dan dangkal sulit menembus lapisan tanah yang keras. Selada ditanam dalam bedengan-bedengan. Lebar bedengan 1-1,2 m dengan tinggi permukaan tanah sekitar 20 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Antarbedengan dibuat parit kecil tempat mengatur kelebihan atau kekurangan air. Sedang jarak tanam yang digunakan adalah 20 x 25 cm.
Pemeliharaan
Pemeliharaan Ketika tanaman berumur 2 minggu sudah harus dilakukan penyiangan. Hal ini karena perakaran selada dangkal sehingga kurang mampu bersaing dengan tanaman lain dalam menyerap hara. Penyiangan juga berfungsi untuk menekan serangan hama-penyakit. Interval pengerjaannya adalah seminggu sekali. Pengairan pada tanaman selada patut mendapat perhatian. Apalagi di dataran rendah di mana udara lebih panas dan sering kekurangan air. Kebutuhan air mutlak dipenuhi pada awal pcnanaman, saat penyiangan pertama (umur 2 minggu), dan ketika tanaman berumur sebulan. Bila hujan tidak turun, lakukan penyiraman dengan gcmbor atau melewatkan air melalui parit pengairan. Jaga pula agar parit pengairan mampu melewatkan kelebihan air di saat turun hujan lebat. Pemupukan Kebutuhan pupuk kandang untuk tanaman selada adalah 10 ton/ha. Pupuk ini dicampurkan di permukaan areal tanam. Selain pvpuk kandang, tambahkan juga pupuk kimia terutama Urea. Dosis yang dibcrikan ialah Urea 200 kg, TSP 100 kg, dan KCI 100 kg ger hektar. Pupuk diberikan dalam aluran di kiri-kanan tanaman. Pemberiannya dilakukan saat penanaman.
Hama dan Penyakit
Tanaman selada sering menjadi sasaran kutu daun. Akibat serangan hama ini daun mengerut dan mengering karena kurang cairan. Jika tanaman muda yang diserang maka pertumbuhan tanaman tidak sempurna atau kerdil. Insektisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan kutu- ini antara lain Diazinon; Bayrusil, atau Orthene 75 SP. Semprotkan dengan dosis 2 cc/l air. Hama thrips cukup merisaukan petani selada. Ciri serangan thrips ialah daun menguning, mengering, dan tcrakhir tanaman mati. Hama ini dapat dikendalikan dengan Tamarot 200 EC, Bayrusil 250 EC, atau Tokuthion 500 EC dengan dosis 2 ml/l air. Penyakit yang sering ditemui di lahan selada ialah busuk batang. Gejalanya ditandai oleh batang yang melunak dan berlendir. Penyebabnya ialah cendawan Rhizoctonia solani. Bila menyerang tanaman di persemaian, sering mengakibatkan busuk akar. Saat kondisi lahan lembap serangan penyakit bisa menghebat, Untuk pencegahannya, kebersihan lahan harus dijaga dan kelembapan lahan dikurangi. Dapat pula dilakukan penyemprotan fungisida Maneb atau Dithane M 45 dengan dosiss 2 g/l.
Panen dan Pasca Panen
Selada dapat dipanen ketika berumur 2-3 bulan setelah tanam. Namun, bisa saja kurang dari umur tersebut tanaman sudah layak konsumsi, jadi bisa dipanen lebih cepat. Cara panen selada dengan memotong bagian tanaman di atas permukaan tanah. Bisa juga dengan mencabut semua bagian termasuk akar. Setelah akar dicuci, daun-daun yang rusak dibuang. Kelompokkan selada berdasar ukuran. Yang besar dengan yang besar dan yang kecil dengan yarrg kecil. Selada ini harus segera dipasarkan karena tak tahan panas dan penguapan.
Terarium

Ingin “berkebun” tapi tak punya halaman? Jangan bingung. Terarium jadi alternatif bagi yang tetap ingin melakukan penghijauan di mana saja.
Terarium adalah cara menanam tanaman di dalam wadah tembus pandang atau kaca. Seperti halnya akuarium yang berfungsi memamerkan keindahan beragam ikan, terarium juga memajang satu atau lebih tanaman cantik yang disusun indah di dalamnya.
Sebenarnya, terarium sudah lama dikenal. “Tapi belakangan ini bangkit kembali karena global warming sehingga banyak orang terpicu untuk melakukan penghijauan di mana-mana,” kata Evelina, Ketua Ikatan Alumni Pelatihan Pertamanan (IAPP).
“Mereka yang tinggal di apartemen dan tidak punya lahan besar, atau terlalu sibuk dan enggak sempat berkebun tapi tetap ingin melakukan penghijauan dan memiliki taman, bisa memilih terarium. Terarium pun bisa mempercantik rumah yang besar, misalnya diletakkan di atas meja ruang keluarga,” kata Evelina, yang ditemani beberapa pengurus IAPP lainnya.
Namun, tak bisa sembarang tanaman dapat ditanam dalam wadah kaca. Menurut Evelina, yang cocok untuk terarium adalah jenis tanaman yang pertumbuhannya lamban dan sangat mudah dirawat. “Seperti kaktus dan sukulen yang tumbuhnya tidak terlalu besar dan tahan lama,” ujarnya.
Selain sukulen dan kaktus, tanaman lain seperti Sansivieria dan Bromelia pun bisa menjadi pilihan alternatif lainnya. Jenis tanaman seperti tadi, mudah dirawat dan tidak harus disiram setiap hari.
Ketika disiram, Evelina menerangkan, airnya tak perlu langsungke tanaman, tapi cukup ke pinggiran kacanya saja agar tanaman tak cepat membusuk. Selain itu, Evelina juga menyarankan agar terarium dikeluarkan dari dalam rumah atau ruangan seminggu sekali, agar tak cepat membusuk dan pertumbuhannya tidak terlampau cepat.
“Tapi sebaiknya jangan langsung terkena hujan atau sinar matahari. Pertama-tama, letakkan di teras saja dulu agar bisa beradaptasi dengan suasan luar ruangdan menghirup udara bebas. Setelah itu, perlahan-lahan boleh tertimpa sinar matahari.”
PUNYA PENGGEMAR SENDIRI
Melihat proses perawatannya yang tak terlalu sulit, terarium pun cukup mudah dibuat sendiri. Kendati demikian, Eveline menambahkan, biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu terarium sangat tergantung pada pemilihan jenis tanaman dan wadah kacanya.
Modal membuat terarium, ungkapnya, bisa dimulai dari Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah. Semakin eksklusif bentuk wadah kacanya, tentu biaya membuat terarium akan semakin mahal.
Uniknya lagi, meski hanya ditempatkan di dalam wadah terbatas, terarium juga tetap menggunakan media tanam seperti arang, kompos, dan zeloit. “Ketiga media tanam ini sebaiknya jangan dicampurkan, tapi letakkan secara terpisah-pisah agar makin terlihat gradasi warnanya. Media arang harus diletakkan di bagian paling bawah agar bisa meresap air siraman,” saran Evelina.
Meski mudah, menurut Evelina, proses yang paling sulit dalam membuat terarium adalah ketika harus menempatkan komposisi tanaman di dalam wadah. Sebab, akan dibutuhkan kesabaran yang cukup tinggi.
Sebagai langkah awal, tanaman ditata sesuai dengan wadahnya. Usahakan agar tanaman tidak diletakkan berdesakan. Perbedaan tinggi tanaman pun sebaiknya proporsional. Sesuaikan antara tanaman yang tinggi dengan yang lebih rendah.
Bagi Evelina, disitulah seninya membuat terarium, bagaimana memposisikan tanaman dan menyesuaikan tinggi rendahnya. Yang patut diperhatikan, tanaman jangan sampai melewati mulut wadah. Jika wadahnya cukup besar, bisa letakkan pot kecil di dalamnya. “Variasinya, sangat tergantung pada yang membuatnya.”
Jika semuanya tampak mudah dilakukan, lalu adakah kendala dalam membuat terarium? Menurut Evelina, kendalanya hanya satu, yaitu sulitnya mencari tanaman yang cocok dan pas untuk terrarium. “Biasanya, kendala muncul ketika harus pemilihan warna tanaman,” sambung Tri, salah satu anggota IAPP, yang juga ahli kompos.
Terarium, lanjut Tri, memiliki kelas tersendiri dan tidak semua orang bisa menyukainya. “Jujur saja, lebih banyak mereka yang secara ekonomi berada di kelas atas yang mengerti tanaman dan seni. Jadi, mereka bis alebih tahu keindahan terarium itu ada di mana,” tukasnya.
Batikku sayang…

Busana Batik sepertinya cocok untuk hampir semua Kondisi, ini memang benar sudah kenyataannya. Target pasar batik yang terus tumbuh merupakan peluang usaha yang saya rasa bisa Anda garap secara online juga bukan?. Yang penting Anda bisa memperoleh harga beli yang rendah dan menjualnya dengan harga normal pada teman-teman online Anda. Anda mungkin sudah sering mendengar toko online? Why not menjadikan batik sebagai peluang usaha online Anda?
Sekarang kalau kita amati secara bersama-sama untuk pemakaian busana batik ini, sudah menjadi suatu kebutuhan untuk sebagian atau bahkan hampir menyeluruh pemakaian busana batik ini mendominasi di negara kita, seperti halnya perusahaan – perusahaan BUMN dan tidak menutup kemungkinan perusahan swasta yang mengkhususkan memakai busana batik untuk hari-hari tertentu.
Pemakaian busana batik ini bisa juga digunakan untuk banyak acara, seperti apabila kita diundang oleh kerabat dan relasi kita, paling tidak yang ada di benak kita adalah busana berkerah rapi dengan bawahan gelap atau busana batik betul khan? ataupun mungkin undangan hajatan yang lain seperti tasyakuran, ulang tahun, pesta keluarga, busana batik sangat tren saat ini, sehingga tak heran kalua kita memakai busana batik maka sedikit banyak merupakan tipical orang Indonesia asli. Dalam rapat – rapat penting pun, pemakaian busana batik juga terlihat baik dan elegan. see? bahwa target market untuk usaha batik ini sangat luar biasa.
Busana batik ini mempunyai corak dan warna yang khas yang bisa membaur dengan si pemakainya sehingga, untuk si pemakianya bisa menjadi lebih percaya diri dan mantap. Busana batik ini juga sangat diminati oleh orang – orang bule atau orang – orang barat, tidak hanya karena warna dan coraknya yang indah (dimana mungkin bisa memberi inspirasi tersendiri bagi mereka orang bule contohnya bill gate), akan tetapi busana batik memang netral dipakai untuk semua kondisi, acara atau hajatan.
Manisan Mangga
Melimpahnya buah mangga di Cirebon merupakan sumber produk makanan olahan yang kaya rasa. Salah satunya, manisan mangga buatan keluarga Handrawati (45) yang menjadi oleh-oleh khas dari ”Kota Udang” ini.
Tak banyak orang tahu, sebagian manisan mangga yang dibeli wisatawan di toko oleh-oleh di Kota Cirebon itu berasal dari sebuah rumah sederhana di Jalan Garuda, Kota Cirebon.
”Hampir 80 persen manisan mangga yang kami buat dibeli toko oleh-oleh tanpa merek. Mereknya mereka buat sendiri sesuai nama toko masing-masing atau nama dagangnya. Hanya 20 persen yang pakai merek kami sendiri,” ujar Handrawati, yang menggunakan merek Taci Kembar pada produk manisan mangganya.
Saat ini, sudah mulai banyak pelancong yang datang ke Cirebon mengenal manisan mangga Taci Kembar. Mereka terkadang sengaja datang ke rumah Wawa, panggilan akrab Handrawati. Dia sudah merintis bisnis ini selama 30 tahun.
Sukses bisnis Wawa diraih berkat kegigihan. Jatuh bangun dan kegagalan usaha dalam usaha manisan mangga sudah pernah dialaminya.
Semua anggota keluarganya pun ikut terlibat dalam memasarkan manisan mangga ini. ”Kami dari keluarga biasa. Kalau barang tidak terjual, kami tidak bisa sekolah. Jadi, di sekolah, saya juga jualan manisan mangga,” kenang Wawa.
Usaha pembuatan manisan mangga dimulai sebelum tahun 1970 oleh almarhum kakak perempuan dari ayah Handrawati.
Mulai tahun 1980-an, usaha pembuatan manisan mangga diteruskan Handoko, ayah Handrawati. Karena respons pasar bagus, pemasaran mulai diperluas sampai ke Bandung, Cianjur, Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Asli dan alami
Satu hal yang selalu menjadi komitmen usaha Wawa selama puluhan tahun adalah terus mempertahankan resep asli dan alami manisan buatan keluarganya. Menurut dia, konsumen sekarang sangat kritis sehingga mereka akan memilih yang terbaik untuk mereka konsumsi.
Oleh karena itu, keaslian cita rasa harus dijaga. Salah satunya, menggunakan mangga segar dan tidak menggunakan bahan pengawet.
Semua mangga yang diproses adalah mangga yang baru dibeli dari petani di daerah Ciledug dan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. Jenis mangga yang dibeli terdiri dari cengkir, golek, kidang, dan mangga lalijiwo.
Tidak ada mangga yang distok lebih dari seminggu. Akibatnya, proses produksi hanya berjalan selama delapan bulan, hanya saat panen mangga.
Mangga-mangga itu langsung dikupas, direndam dengan garam selama sehari semalam untuk menghilangkan getah.
Kemudian direndam dengan air gula selama dua hari. Selanjutnya, dijemur di bawah terik matahari selama 3-4 hari sampai benar-benar kering.
Tidak memakai bahan kimia pengawet dan pengeras atau mesin pengering. Semua proses pembuatan masih alami dan tradisional sehingga rasa yang ditimbulkan juga alami.
”Rasa tidak bisa bohong, Mas. Biarpun (harganya) lebih mahal, kalau rasanya enak, pasti tetap dicari,” ujar Wawa yang kini menjalankan usahanya bersama adik perempuannya.
Selama 6-8 bulan, sekali produksi, Taci Kembar membutuhkan 100 kilogram mangga, yang bisa menghasilkan 15 kg manisan mangga berbagai jenis.
Pembuatan manisan mangga 5-7 hari bergantung pada cuaca. Jika musim hujan, akan lebih lama karena tidak banyak sinar matahari untuk menjemur.
Saat ini, harga manisan mangga Taci Kembar dijual Rp 40.000-Rp 60.000 per kg. Ukuran kemasan yang ditawarkan mulai dari 100 gram, 250 gram, 500 gram, sampai 1 kg. Manisan mangga juga dijual hingga ke Jakarta, Surabaya, dan Pulau Dewata Bali.
Melon dan Semangka

Buah bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder bagi masyarakat Indonesia. Keberadaannya seolah wajib di meja makan atau lemari es. Lihat saja gerai-gerai buah pun bertebaran di mana-mana.
Besarnya permintaan buah tergambar dari data Pasar Induk Kramat Jati (PIJK). Diungkapkan S. Margono, Ketua Koperasi Pasar (Koppas) Kramatjati, dalam sehari PIJK memerlukan minimal 2.700 ton buah-buahan. Jenis buah yang permintaannya terus meningkat antara lain melon dan semangka.
Jumlah pedagang melon di PIJK sekitar 30 orang. Jika tiap orang mampu menjual 6 ton, maka tak kurang dari 180 ton melon per hari ludes dibeli. “Harga melon Rp4.500 per kg. Jadi, nilai uang untuk melon di PIKJ dalam sehari adalah Rp810 juta atau Rp24,3 miliar per bulan,” jelas Margono kepada AGRINA. Sedangkan semangka, perputaran uangnya tak kurang dari Rp21,6 miliar per bulan.
Ulin Nuha, padagang melon di PIJK menuturkan, dua tahun terakhir harga melon cukup bagus dan stabil. Melon jenis Action kisaran harganya antara Rp3.500—Rp4.500 per kg. Penghuni kios Blok CSB No.154-156 di PIKJ ini setiap hari berhasil menjual melon 14 ton atau setara Rp500juta.
Di tempat lain, Ade Dwi Adedi, Ketua Kelompok Ikatan Petani Melon Cilegon, mengaku baru mampu menutupi sepertiga dari permintaan pemasok melon untuk pasar Jakarta. “Kita diminta memenuhi 15 ton per minggu tapi baru bisa 5 ton. Ke depan produksi akan terus ditingkatkan karena masih terbuka pasarnya,” ungkap ketua yang membawahi lebih dari 90 petani ini.
Besarnya peluang mengisi melon dan semangka ke pasar dalam negeri juga dikemukakan JK Soetanto, pemilik Boga Tani Farm di Ciputat, Tangerang. Menurutnya, kota-kota besar macam Jakarta, Bandung dan Surabaya adalah pasar potensial dimasuki. “Peluang di pasar lokal sangat besar. Kalau pasar lokal sudah terpenuhi, baru berpikiran ekspor. Yang jelas, belum tentu harga ekspor lebih baik dari pasar lokal. biasanya main di kuantitas,“ ujar pemain lawas bisnis melon dan semangka ini.
Tangkap Peluang
Ditjen Hortikultura, Deptan, mencatat perkembangan produksi melon cukup signifikan. Pada 2007 terjadi peningkatan 120% produksi melon dibandingkan tahun 2000 atau 15,47%. Pada 2006, produksinya mencapai 55.000 ton, sedangkan tahun lalu naik menjadi 59.000 ton. Begitu juga semangka, pada periode yang sama rata-rata terjadi peningkatan sebesar 13%. “Melon dan semangka merupakan buah yang sangat digemari masyarakat. Nilai ekonominya menjanjikan dan pasarnya masih sangat terbuka,” ungkap Winny Dian Wibawa, Direktur Budidaya Tanaman Buah, Ditjen Hortikultura, Deptan.
Sentra produksi melon didominasi oleh Jatim dengan daerah lumbung, seperti Ngawi, Madiun, Banyuwangi, Nganjuk, Lamongan, dan Jember. Di luar itu ada Lampung, Sulsel, dan Banten, khususnya kota Cilegon dan Serang sebagai sentra baru. Sedangkan pemasok semangka adalah Jabar, seperti Indramayu dan Subang. Sentra di Jateng meliputi Pati, Demak, dan Kudus. Sedangkan Jatim, terdapat di Banyuwangi, Lamongan, dan Mojokerto. Di luar Pulau Jawa, sentra berlokasi di Sumut, Sumbar, dan Lampung.
Pengembangan melon dan semangka membawa dampak positif terutama dari sisi pendapatan petani. Ir. Wawan Hermawan, Kepala Dinas Koperasi dan Pertanian Kota Cilegon berpendapat, budidaya melon menjadi salah satu solusi usaha masyarakat. Selain masa budidaya singkat, hanya dua bulan, harga jualnya juga cukup menggiurkan. “Banyak masyarakat Cilegon tak terpikir mengembangkan pertanian. Mereka lebih memilih industri. Padahal melon menguntungkan,” paparnya.
Melihat besarnya peluang tersebut, tak heran BUMN seperti PT Krakatau Steel, melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) turut mengembangkan kemitraan budidaya melon. “Sejak 2005, kami mengeluarkan dana untuk sosialisasi, pembinaan, dan bimbingan supaya petani bisa mengusahakan melon. Kami berharap, pada 2009, para petani sudah bisa mandiri,” ujar Dadang Danusiri, Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum pabrik baja itu.
Sampai saat ini sudah terhimpun 90 orang petani di daerah Cilegon, Serang, dan Tangerang di bawah binaan Krakatau Steel. Awalnya, pembinaan dilakukan di kelas, kini petani mengaplikasikannya di lapangan. Petani dibagi menjadi 18 kelompok dan penanaman dijadwal bergilir agar kontinunitas panen terjaga. Hasilnya, setiap minggu diangkut 5 ton melon.
Sementara itu, Taman Buah Mekarsari, Cileungsi, Bogor, juga mengakui besarnya animo masyarakat terhadap melon. Bahkan Mekarsari telah menambah rumah kacanya dari 18 unit menjadi 32 unit untuk mendongkrak produksi. “Mekarsari selalu kekurangan buah melon saat puncak liburan. Soalnya ketika berwisata pengunjung memilih melon sebagai buah tangan,” papar A. F. Margiansari, Kabag Kebun Produksi dan Penelitian PT Mekar Unggul Sari.
Menguntungkan
Mengusahakan melon dan semangka menghadirkan keuntungan berlipat. Setidaknya begitu pengakuan Nurul Ulum Toyib, petani melon di Kp.Warakas, Ds. Kebonratu, Ciruas, Serang, Banten. Pria 38 tahun yang membudidayakan melon sejak 2003 ini mengaku mendapat margin lebih besar ketimbang bertanam komoditas lain. “Dari satu hektar dengan populasi 15.000 tanaman, hasil penjualannya sekitar Rp50-jutaan,” tutur petani terbaik se-Banten tahun lalu. Varietas pilihannya adalah Apolo, melon tanpa jaring berkulit kuning.
Begitu pula, Amrulloh dan Jasuki, di Cilegon, Banten. Keduanya menjatuhkan pilihan ke melon lantaran harga jualnya tinggi dan siklus tanamnya cepat. Jasuki malah mengaku mendapat keuntungan bersih Rp21 juta dari luas garapan 3.000 m². Jenis melon yang diusahakan mereka pun varietas Apolo.
Alasan sama juga dikemukakan Tukirin di Desa Sumbersewu, Kec. Muncar, Banyuwangi. Petani yang telah berkecimpung di budidaya melon sejak tahun 2000 ini menerapkan pola tanam padi—melon—melon—melon. Dari luasan 7.000 m², ia memanen 27 ton melon segar varietas Action. “Saya memperoleh uang sekitar Rp55 juta,” papar pria 42 tahun itu.
Atau kisah Maryono dari Ngawi, Jatim. Penanam varietas Japonika ini setiap bulan mampu memasarkan 300 ton buah melon ke Jakarta. Untuk menanam 4.000 batang, ia menyiapkan dana Rp8 juta. Dengan bobot per buah 2 kg dan harga jual Rp2.300 per kg, keuntungan bersih Rp10 jutaan masuk koceknya.
Bisnis semangka tak kalah hebat. Jana, petani semangka di Indramayu, Jabar, sudah terjun ke bisnis semangka sejak 1995. Meski mengaku memulai usaha dari nol, ternyata ia mampu membeli rumah dan motor dari bisnis tersebut. “Tahun 2006, saya tanam 200 bata (2.800 m2), dan bisa panen 17 ton. Pendapatannya sekitar Rp19 juta. Untung bersih Rp15 juta,” beber pengguna benih Amor dan Asmara ini.
Banyak Rambu
Bak gadis cantik, untuk mendapatkannya diperlukan perjuangan besar. Begitu juga dengan melon dan semangka. Iming-iming keuntungan akan terkantongi hanya dengan ketekunan. Beberapa hal bisa menjadi sandungan. Penanaman golden melon misalnya, menurut Ade Dwi Adedi, butuh biaya produksi Rp4.500 per tanaman.
Sedangkan JK Soetanto mewanti-wanti, pemain baru hendaknya memperkirakan jarak pasar dan lokasi penanaman. Selain itu siklus serangan penyakit juga mesti diperhatikan. Lebih jauh ia mengingatkan, biasanya pada akhir tahun permintaan melon dan semangka turun 20%—30% karena bersaing dengan mangga dan durian. “Dalam satu tahun, permintaan tinggi pada musim kemarau dan bulan puasa, permintaan bisa naik sampai 20%. Musim kemarau biasanya produksi menurun karena kekurangan air. Tapi kualitas buah bagus lantaran penyakit berkurang sehingga harganya bagus,” jelasnya
Pergiliran tanaman menjadi salah satu cara pengendalian hama dan penyakit secara sederhana. Dari pengamatan Final Prajnanta, Business Manager Food Crop, Bayer CropScience, bila lahan ditanami melon atau semangka selama dua tahun berturut-turut, biasanya pada tahun ketiga, penyakit akan banyak menyerang. Pergiliran tanaman idealnya dengan bawang merah. Sayangnya, hampir tidak pernah ada petani melon kemudian menanam bawang merah karena penanganannya beda.
Budidaya melon, menurut pandangan Final, harus telaten. Pemeliharaan seperti merompes dan pengamatan serangan hama penyakit menjadi tugas rutin tiap hari. “Melon itu paling susah, dibanding semangka dan cabai. Tanam melon tidak bisa meleng sehari,” lanjutnya.
Rambu lainnya adalah pasar. “Setiap pasar menghendaki ukuran buah favorit berbeda. Pasar tradisional Semarang misalnya, menyukai melon berbobot 1—2 kg. Sedangkan Jakarta bisa menerima semua ukuran. Lain lagi dengan Surabaya yang lebih menyukai melon kualitas B,” ucap Suherman Effendi, Agronomis PT Tanindo Subur Prima area Magetan, Jatim.
Fluktuasi harga dan pasokan melon maupun semangka pun sering terjadi. Menurut I Nyoman Buana, Country Lead PT Seminis Vegetable Indonesia, produsen benih hortikultura, komoditas ini sering tersubtitusi dengan jenis buah lain lantaran banyaknya varian buah-buahan. Misalnya, kala musim mangga datang, melon dan semangka kadang terlupakan. Namun, “Bila dilihat dari potensi lahan dan permintaan pasar memang akan terus meningkat,” paparnya optimis.
Sengon
Bisnis sengon diyakini tetap prospektif di tengah perlambatan ekonomi akibat krisis finansial global. Bahkan, industri pengguna kayu sengon juga tidak menurunkan minat beli mereka, sehingga harga pun tetap menarik.
“Sejauh ini belum ada penurunan minat pembelian kayu sengon dengan harga yang sangat menarik,” kata Ketua Koperasi Perumahan Wanabakti Nusantara (KPWN), Dibyo Poedjawadi kepada pers, di Jakarta, Rabu (22/4).
KPWN adalah badan usaha binaan Departemen Kehutanan yang beberapa tahun terakhir mengembangkan investasi bagi hasil tanaman jati dan sengon unggul.
Dibyo menjelaskan, pihaknya kebanjiran permintaan kontrak pembelian kayu sengon. “Saat ini harga kayu sengon sekitar Rp120.000/pohon dengan diameter 20 cm,” katanya.
Kondisi tersebut diyakini membuat penawaran investasi Sengon Unggul Nusantara (SUN) yang baru dimulai tiga bulan terakhir ini menarik.
Menurut Dibyo, dengan investasi awal Rp40 juta/hektare dengan 2.500 batang sengon dalam 4 tahun bisa segera dipanen. Hal itu dikarenakan SUN adalah sengon unggul yang memiliki sistem perakaran tunjang majemuk yang membuatnya mampu menyerap nutrisi lebih banyak dan cepat tumbuh.
Saat ini KPWN sudah menyiapkan plot cluster lahan untuk pengembangan SUN seluas 80.000 ha atau dengan 2 juta batang. “Kita siapkan 80.000 ha lahan untuk pengembangan SUN bisa manfaatkan lahan dengan melibatkan masyarakat dengan hitungan bisnis yang sama-sama menguntungkan,” kata Dibyo.
Hasil produksi nantinya akan dibagi secara adil dengan perhitungan bagi hasil sebesar 55% untuk investor, 30% pemilik lahan dan 15% untuk fasilitator dalam hal ini KPWN.
Saat ini KPWN telah menanam SUN seluas 400 ha yang tersebar di sejumlah titik di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Ke depan, kata Dibyo, investasi jati dan sengon unggul juga berpeluang untuk memperoleh pendanaan dari perdagangan karbon.
Pepaya Mini

Umur 7—9 bulan mulai panen. Terus berbuah sepanjang musim. Setahun sudah balik modal. Permintaan pasar belum terpenuhi.
Itulah beberapa kelebihan usaha tani pepaya (Carica papaya). “Dibanding jenis buah lain, pepaya paling menarik untuk diusahakan,” tandas Nano Wijayatno, petani pepaya di Karawang, Jabar. Sampai saat ini permintaan pasar di dalam negeri saja belum terpenuhi. Apalagi untuk memenuhi permintaan dari China dan negara-negara Uni Eropa.
Kecuali itu, budidaya pepaya tidak serumit buah semusim. Dan untuk jadi duit tidak perlu menunggu sampai tahunan. Panen buahnya pun bisa dilakukan 5—7 hari sekali, sepanjang tahun.
Pepaya Mini
Pepaya yang banyak dikembangkan di Indonesia adalah jenis pepaya besar dengan bobot 2—3 kg per buah dan panjang 30—40 cm. Pepaya golongan Bangkok ini antara lain pepaya Jinggo, Dampit, Cibinong, dan Paris.
Sejalan dengan kemajuan teknologi, kini sudah berkembang pepaya yang ukurannya lebih kecil, seperti tipe Solo maupun Hawaii. Pepaya mini ini berbobot 400—600 gram per buah sehingga dapat habis dikonsumsi oleh 1—2 orang sekali makan. Ada juga pepaya yang berukuran sedang seperti varietas California yang berbobot 800 gram—1,2 kg per buah.
Memang, pepaya berukuran kecil itu sudah lama berkembang di luar negeri. Tapi di Indonesia belum banyak petani yang mengembangkannya. Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, konsumen di kota-kota besar mulai menggandrunginya lantaran citarasanya lebih manis, menyegarkan, dan praktis. Buah tak perlu dikupas, cukup dipotong dan dimakan menggunakan sendok.
Bagi petani, pepaya ukuran sedang dan mini menjanjikan keuntungan besar. Di tingkat petani, pepaya California dihargai Rp2.000.—Rp2.500 per kg. Sementara pepaya mini Rp4.000—Rp5.000 per kg. Di pasar swalayan, lebih gila. Pepaya California dan pepaya mini dijual Rp 9.000—Rp11.000 per kg.
Lokal Punya
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika, IPB, Bogor, sudah berhasil memproduksi benih jenis pepaya mini. “Jangan sekali-kali membeli benih dari luar negeri. Bukan masalah ekonomi saja, tapi dikhawatirkan benih itu membawa penyakit Papaya Ring Spot Virus (PRSV),” ungkap DR. Sobir, Kepala Pusat Kajian Buah-buahan Tropika, IPB.
Penyakit ini sangat ganas, menyerang semua bagian tanaman, mulai di persemaian hingga tanaman di kebun. Dan, sampai sekarang tidak ada obatnya. Sementara hingga kini Indonesia masih terbebas PRSV. “Jangan sampai keunggulan Indonesia terbuang lantaran mengintroduksi benih dari luar,” Sobir mewanti-wanti.
Sobir sangat khawatir Indonesia tertular PRSV. Sebab, sekali penyakit itu masuk, sulit mengembangkan pepaya. Bahkan perkebunan pepaya yang ada sekarang pun bisa luluh-lantak. Ia menduga, virus itu ditularkan oleh serangga, lantaran penyebarannya begitu cepat. Oleh karena itu, bagi Anda yang mau mengembangkan pepaya, sebaiknya memanfaatkan keunggulan varietas lokal..
Mesti Telaten
Secara umum, pepaya ukuran kecil tumbuh subur bila ditanam di lahan gembur dengan ketinggian 300—500 meter di atas permukaan laut (dpl). Namun hasil penelitian Sobir bertahun-tahun, pepaya tersebut akan lebih baik bila ditanam di ketinggian kurang dari 300 m dpl. Soalnya, intensitas serangan penyakit antraknosa di wilayah berketinggian itu relatif lebih rendah. Kehilangan hasil akibat antraknosa ini bisa mencapai 20%. Walaupun ada masalah lain di dataran rendah, yaitu serangan hama Thrips, tapi ini lebih mudah dikendalikan ketimbang serangan penyakit.
Di kebun, pepaya ditanam dengan jarak 2 m x 2,5 m. Sehingga dalam satu hektar lahan ditanami 1.500—1.700 bibit. Sebaiknya, setiap lubang tanam diisi dua bibit. Setelah umur tiga bulan lalu dipilah, sehingga satu lubang berisi satu tanaman.
Walaupun budidayanya tidak njelimet, pepaya butuh perawatan yang intensif. Pasalnya, ia berproduksi dan panen sepanjang tahun sehingga perlu asupan pupuk yang memadai. “Pupuk Nitrogen (urea), K (KCl), dan Ca (kapur) harus cukup,” saran Sobir. Dari pengalaman beberapa petani, pemupukan dilakukan tiga bulan sekali.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengairan, terutama saat penanaman. Pepaya butuh air cukup tapi tidak boleh tergenang. Bila kekurangan air, buah tidak akan terbentuk.
Pascapanen
Penanganan panen dan pascapanen pepaya di tanah air menjadi hal sangat penting karena menyebabkan banyak buah tidak bisa dipasarkan. Yang kerap ditemui saat panen misalnya pepaya jatuh sehingga memar, ditaruh di tanah atau di keranjang tanpa alas, dan getah berlepotan. Kehilangan hasil akibat keteledoran itu bisa mencapai 20%—40%.
Padahal, menurut Sobir, penanganan panen dan pascapanen mesti dilakukan mulai dari pemilihan waktu petik yang tepat, cara petik, penanganan di kebun, penanganan di tempat pengumpul, sampai di perjalanan. “Sebaiknya, ketika panen menggunakan sarung tangan. Selain melindungi tangan dari getah juga menghindarkan kerusakan pada kulit pepaya,” katanya.
Pepaya tipe Solo atau yang berukuran sedang, sudah bisa dipanen setelah berumur 7—9 bulan. Tanaman ini produktif sampai umur 3 tahun. “Umur ekonomis pepaya itu rata-rata 3 tahun,” Sobir membenarkan. Dalam satu bulan bisa dipanen 4—6 kali. Sekali panen, setiap pohon dapat menghasilkan 100—130 buah.
Menurut hitungan Nano dan Sobir, untuk mengupayakan satu hektar kebun pepaya diperlukan modal investasi sebesar Rp44 juta—Rp45 juta. “Bila dirawat intensif, dalam setahun sudah balik modal,” urai Nano.
Taubat Nasional Nabi Yunus
Allah mengutus Nabi Yunus alaihissalam kepada kaum yang berdiam di negeri Ninive (sekarang masuk dalam teritori Irak). Nabi Yunus mendakwah mereka agar bertaubat, beriman, dan menyembah kepada Allah. Tetapi mereka menolak karena menganggap Nabi Yunus hanya mengada-ada serta menilai seruan itu sangat bertentangan dengan kebiasaan mereka yang telah mendarah daging dan dilakukan turun-temurun.
Penolakan mereka bertambah bobotnya ketika kaum ini punya dalih yang lebih jelek, bahwa Nabi Yunus yang diutus dan berdakwah itu bukan dari kalangan mereka. Pada akhirnya mereka tetap menolak Yunus dan terus berbuat durhaka. Ini membuat Nabi Yunus memutuskan akan pergi meninggalkan mereka setelah sebelumnya mengingatkan bahwa siksa Allah akan turun.
Begitu Nabi Yunus meninggalkan negeri itu, tanda-tanda siksa yang dijanjikan pun terlihat. Melihat tanda-tanda itu, mereka jadi yakin seruan Nabi Yunus bakal jadi kenyataan. Kaum itu menyesal dan segera mengambil sikap bertaubat (secara nasional) kepada Allah. Melihat sikap yang ikhlas ini, Allah membatalkan siksa yang seyogianya diturunkan kepada mereka. Akhirnya mereka beruntung, selamat, dan hidup berbahagia dalam kasih sayang Allah.
Di dalam Alquran banyak diceritakan sikap umat-umat terdahulu terhadap seruan hak yang disampaikan para rasul. Tapi, satu-satunya umat yang selamat dari siksa adalah umat yang diseru oleh Nabi Yunus itu. Ini disebabkan mereka segera bertaubat dan membenarkan seruan hak yang mulanya mereka nilai sebagai sesuatu yang diada-adakan oleh Nabi Yunus.
Sejarah para rasul dan umat-umat dahulu adalah sunatullah yang berisi nasihat dan pelajaran yang harus kita petik. Mereka dulu selalu merasa telah benar dengan semua perbuatan yang mereka lakukan, dan akibatnya pertama, diri mereka tertutup untuk menerima kebenaran dan bangkit sebagai penghadang terhadap seruan hak.
Kedua, nasihat mereka rasakan sebagai sesuatu yang diadakan-adakan dan kehormatan mereka terusik bila menerima nasihat. Ketiga, mereka selalu curiga kepada penyeru kebenaran, sehingga menuduh para rasul Allah sebagai orang gila, tukang sihir, dan lain-lain.
Bagi kita bangsa Indonesia, terutama umat Islam, marilah belajar dari sejarah umat-umat dahulu, terutama dalam melihat berbagai bencana yang terjadi sekarang ini. Tidakkah kita dapat merasakan bahwa persoalan yang sedang melanda bangsa ini adalah teguran dari Allah yang sangat sayang kepada kita? Malukah kita kalau bersikap terbuka (ikhlas dan jujur) untuk mengakui bahwa kita sekarang berhadapan dengan akibat dari kelalaian, keserakahan, dan kesombongan kita?
Hanya ada satu solusi untuk mengatasi kemelut yang sedang menantang bangsa kita, yaitu mengikuti jejak umat Nabi Yunus sebelum kita melakukan usaha-usaha yang lain. Kita, terutama para pemuka bangsa, tidak perlu malu melakukan sesuatu yang terpuji. Mari kita ajak bangsa ini untuk mengakui kesalahan kita di hadapan Allah karena kita semua, baik pemimpin maupun rakyat, adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Mari kita contoh umat Nabi Yunus yang telah mencontohkan sikap terbuka di dalam hidup ini. Insya Allah kita akan menjadi bangsa yang menang, selamat, dan bahagia